Mesin packaging otomatis dirancang untuk bekerja dengan kecepatan tinggi dan konsisten. Namun, mesin yang terlihat terus berjalan belum tentu bekerja pada performa maksimal. Penurunan kecepatan, minor stoppage, material macet, hingga perubahan cycle time dapat membuat output aktual lebih rendah dibandingkan kapasitas teoritis mesin.
Untuk mengetahui kondisi tersebut secara objektif, industri dapat menggunakan Performance Rate sebagai salah satu indikator dalam Overall Equipment Effectiveness (OEE). Ketika data produksi dikumpulkan secara real-time, perusahaan tidak hanya mengetahui berapa banyak produk yang dihasilkan, tetapi juga dapat melihat seberapa dekat mesin bekerja dengan kecepatan idealnya. Dalam OEE, Performance mengukur kerugian akibat mesin berjalan lebih lambat dari kecepatan maksimum atau mengalami small stops.
Apa Itu Performance Rate pada Mesin Packaging?
Performance Rate menunjukkan seberapa optimal kecepatan mesin ketika mesin sedang beroperasi. Indikator ini berbeda dengan Availability yang mengukur apakah mesin tersedia untuk produksi.
Secara umum, Performance dapat dihitung dengan membandingkan Ideal Cycle Time × Total Count terhadap Run Time. Dengan kata lain, perhitungan tersebut menunjukkan seberapa besar output yang seharusnya dapat dicapai berdasarkan kecepatan ideal dibandingkan hasil aktual selama mesin berjalan.
Sebagai contoh, mesin packaging memiliki ideal cycle time 2 detik per kemasan. Jika mesin berjalan selama 1 jam, secara teoritis mesin mampu menghasilkan 1.800 kemasan. Apabila data aktual menunjukkan hanya 1.530 kemasan yang diproduksi, Performance Rate berada di sekitar 85%.
Angka tersebut memberikan informasi penting: mesin memang berjalan, tetapi terdapat kehilangan performa yang perlu ditelusuri.
Mengapa Data OEE Real-Time Penting?
Pengukuran manual biasanya dilakukan dengan mencatat output pada akhir shift. Cara ini masih dapat memberikan gambaran umum, tetapi sulit menunjukkan kapan penurunan performa terjadi.
Dengan sistem OEE real-time, data dapat dikumpulkan langsung dari mesin melalui PLC, sensor, counter produksi, HMI, atau sistem monitoring. Data seperti jumlah produk, cycle time, status mesin, run time, dan downtime kemudian dapat diproses menjadi informasi Performance Rate.
Pendekatan tersebut memungkinkan tim produksi melihat perubahan performa berdasarkan waktu, shift, produk, maupun mesin. Sistem monitoring OEE juga dapat menyajikan Availability, Performance, Quality, good product, produk NG, run time, dan downtime sebagai bagian dari laporan produksi.
Data yang Dibutuhkan untuk Mengukur Performance Rate
Sebelum menghitung Performance Rate mesin packaging otomatis, beberapa parameter perlu dikumpulkan secara konsisten.
Pertama, Ideal Cycle Time. Ini merupakan waktu teoritis tercepat yang dibutuhkan mesin untuk menghasilkan satu unit produk dalam kondisi optimal. Ideal Cycle Time tidak sebaiknya menggunakan rata-rata performa historis karena hal tersebut dapat membuat kehilangan kecepatan terlihat lebih kecil dari kondisi sebenarnya.
Kedua, Total Count, yaitu jumlah seluruh produk yang dihasilkan selama periode pengukuran, termasuk produk yang nantinya dikategorikan sebagai NG.
Ketiga, Run Time, yaitu waktu ketika mesin benar-benar beroperasi selama Planned Production Time setelah dikurangi waktu berhenti.
Keempat, Actual Cycle Time atau Actual Run Rate, yang dapat digunakan untuk melihat kecepatan aktual mesin dibandingkan dengan kecepatan ideal.
Contoh Perhitungan Performance Rate
Misalnya sebuah mesin packaging memiliki data berikut:
| Parameter | Nilai |
| Planned Production Time | 420 menit |
| Downtime | 30 menit |
| Run Time | 390 menit |
| Ideal Cycle Time | 2 detik/produk |
| Total Count | 10.500 produk |
Maka kebutuhan waktu ideal untuk menghasilkan 10.500 produk adalah:
10.500 × 2 detik = 21.000 detik atau 350 menit.
Selanjutnya, Performance Rate dapat dihitung dengan membandingkan 350 menit terhadap Run Time 390 menit.
Hasilnya sekitar 89,7%.
Artinya, selama mesin berjalan, kecepatan produksi aktual masih berada di bawah kondisi ideal. Penyebabnya dapat berasal dari slow cycle, minor stoppage, material feeding yang tidak stabil, sensor yang sesekali membaca kesalahan, atau mekanisme packaging yang membutuhkan penyesuaian.
Jangan Menyamakan Performance dengan Availability
Salah satu kesalahan dalam analisis OEE adalah mencampurkan Performance dan Availability. Mesin yang berhenti selama 30 menit akan memengaruhi Availability, sedangkan mesin yang tetap berjalan tetapi menghasilkan produk lebih lambat dari kecepatan ideal akan memengaruhi Performance.
OEE sendiri merupakan hasil perkalian Availability, Performance, dan Quality. Karena itu, dua mesin dapat memiliki OEE yang sama tetapi memiliki sumber kehilangan produktivitas yang berbeda.
Contohnya, Mesin A mungkin mengalami banyak downtime tetapi ketika berjalan memiliki kecepatan tinggi. Mesin B dapat memiliki downtime rendah, tetapi terus mengalami speed loss. Keduanya membutuhkan strategi perbaikan yang berbeda.
Cara Meningkatkan Performance Rate Mesin Packaging
Setelah Performance Rate dapat dipantau secara real-time, langkah berikutnya adalah mencari penyebab performance loss. Data dapat dikelompokkan berdasarkan jenis produk, jam produksi, shift, operator, maupun kondisi mesin.
Perhatikan pola seperti penurunan kecepatan pada awal shift, peningkatan minor stoppage setelah mesin bekerja beberapa jam, atau penurunan performa ketika jenis material tertentu digunakan.
Sensor dan PLC juga dapat dimanfaatkan untuk menangkap sinyal machine running, machine stop, cycle complete, fault, hingga jumlah produk. Data tersebut kemudian dikirimkan ke sistem monitoring untuk menghasilkan dashboard OEE.
Dengan demikian, tim maintenance dan produksi tidak hanya melihat angka Performance Rate, tetapi dapat menghubungkan angka tersebut dengan kejadian yang terjadi pada mesin.
Peran Sistem Otomasi dalam Monitoring OEE
Implementasi OEE real-time membutuhkan integrasi antara perangkat otomasi dan sistem pengumpulan data. PLC berfungsi sebagai salah satu sumber data mesin, sedangkan sensor dan perangkat input menyediakan informasi mengenai siklus produksi dan status mesin.
Pada tahap berikutnya, data dapat diteruskan ke HMI, industrial PC, SCADA, atau platform monitoring produksi. Struktur tersebut membuat informasi performa mesin dapat dipantau secara lebih cepat dan konsisten.
PT. Sahabat Surya Electrindo dapat membantu kebutuhan komponen kelistrikan dan otomasi industri untuk mendukung implementasi sistem monitoring mesin, mulai dari perangkat kontrol, sensor, hingga kebutuhan integrasi otomasi sesuai karakteristik aplikasi.
Pada akhirnya, Performance Rate mesin packaging otomatis bukan sekadar angka pada dashboard. Nilai tersebut dapat menjadi indikator untuk menemukan kehilangan kecepatan yang sebelumnya sulit terlihat dan membantu tim produksi menentukan area perbaikan berdasarkan data aktual.
Untuk berdiskusi mengenai kebutuhan PLC, sensor, sistem monitoring OEE, maupun komponen otomasi industri lainnya, silakan hubungi Whatsapp PT. Sahabat Surya Electrindo.


